Tampilkan postingan dengan label Islami.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami.. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Desember 2016

Ingin Serba Berkecukupan Rezeki...? Sambunglah dan Jangan Putus Tali Silaturahmimu!


Manusia adalah mahluk social yang selalu membutuhkan perhatian, teman dan kasih sayang dari sesamanya. Setiap diri terikat dengan berbagai bentuk ikatan dan hubungan, diantaranya hubungan emosional, sosial, ekonomi dan hubungan kemanusiaan lainnya. Maka demi mencapai kebutuhan tersebut adalah fitrah untuk selalu berusaha berbuat baik terhadap sesamanya. Islam sangat memahami hal tersebut, oleh sebab itu silaturahmi harus dilaksanakan dengan baik.

Sesungguhnya silaturahmi merupakan amal shalih yang penuh berkah, dan memberikan kepada pelakunya kebaikan di dunia dan akhirat, menjadikannya diberkahi di manapun ia berada, Allah swt memberikan berkah kepadanya di setiap kondisi dan perbuatannya, baik yang segera maupun yang tertunda. Keutamaannya sangat banyak, profitnya melimpah, buahnya matang, pohon-pohonnya baik yang memberikan makanannya di setiap waktu dengan izin Rabb-nya.

Kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakan amal shalih ini.

Demikian banyak dan mudahnya alat transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat kaum muslimin bersilaturahmi. Bukankah silaturahmi merupakan satu kebutuhan yang dituntut fitrah manusia?

Sesungguhnya sempurnalah dengannya keakraban, tersebar kasih sayang dengan perantaraannya, dan merata rasa cinta. Ia adalah bukti kemuliaan, tanda muru`ah, mengusahakan bagi seseorang kemuliaan, pengaruh, dan wibawa. Karena alasan itulah berlomba-lomba padanya orang-orang mulia yang berakal, maka mereka menyambung (tali silaturrahim) kepada orang yang memutuskan dan memberi kepada orang yang tidak mau memberi, serta bersifat santun kepada yang bodoh. Tidaklah nampak muru`ah kecuali ada padanya tali kekeluargaan yang disambung kembali, kebaikan yang diberikan, kesalahan yang dimaafkan, dan uzur yang diterima.

Larangan memutus

Silaturahim termasuk akhlak yang mulia. Dianjurkan dan diseru oleh Islam. Diperingatkan untuk tidak memutuskannya.
Allah Ta’ala telah menyeru hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahmi dalam sembilan belas ayat di kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan adzab, diantara firmanNya: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.” (QS Muhammad :22-23).


“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS An Nisaa’:1).

Silaturahmi merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya, apa bila kita melaksanakan perintah tersebut disamping kita mendapatkan pahala juga akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang sangat banyak sekali, diantara keutamaan tersebut adalah :

Pertama, silaturahmi merupakan sebagian dari konsekuensi iman dan tanda-tandanya.
Dari Abu Hurairah ra oa berkata, Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah I dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah I dan hari akhir maha hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi”. (HR Bukhori dan Muslim)
Kedua, silaturahmi adalah penyebab bertambah umur dan luas rizqi.
Dari Abu Hurairah t ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang senang diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi.” (HR Bukhori dan Muslim)
Ketiga, silaturahmi menyebabkan adanya hubungan Allah swt bagi orang yang menyambungnya.
“Sesungguhnya Allah swt menciptakan makhluk, hingga apabila Dia swt selesai dari (menciptakan) mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adalah kedudukan orang yang berlindung dengan-Mu dari memutuskan.’ Dia swt berfirman: ‘Benar, apakah engkau ridha bahwa Aku menyambung orang yang menyambung engkau dan memutuskan orang yang memutuskan engkau? Ia menjawab, ‘Bahkan.’ Dia I berfirman, ‘Itulah untukmu.’
Keempat, akan selalu berhubungan dengan Allah swt.
Dari Aisyah ra berkata, Rosulullah saw bersabda, “Silaturahmi itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: “Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kelima, silaturahmi merupakan salah satu penyebab utama masuk surga dan jauh dari neraka.
Dari Abu Ayyub al-Anshari ra, sesungguhnya seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku amalan yang memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka. Maka Nabi saw bersabda : “Engkau menyembah Allah swt dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Keenam, silaturahmi merupakan ketaatan kepada Allah swt dan ibadah besar, serta petunjuk takutnya hamba kepada Rabb-Nya, sehingga ia menyambung tali silaturahmi tatkala Allah swt menyuruh untuk disambung.
Firman Allah swt : “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’d :21)
Ketuju, silaturahim merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah swt.
Dari seorang laki-laki dari Khos’amm berkata: “Saya mendatangi Rasulullah sawsedangkan beliau sedang bersama salah seorang sahabatnya, aku berkata: kamu mengaku bahwa engkau adalah Rasulullah? Rasulullah saw menjawab: “iya”, aku bertanya: amalan apa yang paling dicintai Allah swt. Beliau menjawab; “Beriman kepada Allah swt ”, aku bertanya lagi, kemudian apa lagi ? beliau menjawab : “kemudian menyambung silaturahmi”. (HR Abu Ya’la dengan sanan Jayyid)
Kedelapan, sesungguhnya ganjaran silaturahmi lebih besar dari pada memerdekakan budak
Dari Ummul mukminin Maimunah binti al-Harits radhiyallahu ‘anha, bahwasanya dia memerdekakan budak yang dimilikinya dan tidak memberi kabar kepada Nabi saw sebelumnya, maka tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata: “Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku? Beliau bertanya: “Apakah sudah engkau lakukan?” Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Adapun jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu niscaya lebih besar pahalanya untukmu.” (HR Bukhori dan Muslim)
Kesembilan, di antara besarnya ganjaran silaturahmi, sesungguhnya sedekah terhadap keluarga sendiri tidak seperti sedekah terhadap orang lain
Dari Salman bin ‘Amir ra, dari Nabi saw beliau bersabda: “Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah dan terhadap keluarga sendiri mendapat dua pahala: sedekah dan silaturahmi.” (HR Tirmidzi)
Demikian pula dengan hadits Zainab ats-Tsaqafiyah, istri Abdullah bin Mas’ud ra, ketika ia pergi dan bertanya kepada Nabi saw: “Apakah boleh dia bersedekah kepada suaminya dan anak-anak yatim yang ada dalam asuhannya? Maka Nabi saw bersabda: “Untuknya dua pahala, pahala kekeluargaan dan pahala sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ancaman memutus silaturrahmi
Sebaliknya apabila meninggalkan silaturahmi maka akan mendapatkan ancaman dan akibat yang diperoleh. Di antara ancaman memutuskan silaturahmi adalah:

1. Tidak akan diterima amalnya

Dari Abu Hurairah ra berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya perbuatan anak cucu adam diperlihatkan pada setiap kamis malam jumat, maka tidak akan diterima amalnya orang yang memutus tali silaturahmi.” (HR Ahmad)

2. Akan terputus hubungannya dengan Allah swt.

Rosulullah saw bersabda, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya,” [HR. Bukhari, dan Muslim].

3. Tidak termasuk golongan yang beriman kepada Allah swt dan hari akherat. Karena salah satu tanda keimanan seseorang adalah senantiasa meghubungkan silaturahmi.

4. Akan dilaknat oleh Allah dan dimasukan kedalam neraka jahanam.
Allah swt berfirman : “Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan Mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang Itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam). “(QS Ar’Rad : 25)
“Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? mereka Itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”(QS Muhammad 22-23)

5. Tidak masuk surga
Dari Jubair bin Mut?im ra sesungguhnya Rosulullah saw bersabda, ” Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan.”. Sufyan berkata : “yaitu yang memutus hubungan tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Itulah beberapa keutamaan bagi orang yang melakukan silaturahmi dan ancaman bagi orang yang meninggalkannya. [ppmiriyardh/cha/hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagaimanakah Adab Ketika Saudara kita ada yang sakit...?, Tidak Sekedar Menjenguk si Sakit begini Tuntunan nya.



Rasulullah berkata, apabila seorang muslim menjenguk orang muslim yang sedang sakit, maka ia berada di dalam ‘khurfatul jannah’

Menjenguk orang sakit amat dianjurkan dalam ajaran Islam. Karena amalan ini disamping bernilai ibadah, juga memberikan dampak positif tak hanya kepada si sakit, si penjenguk pun memperoleh manfaat darinya. Akan tetapi itu bisa diperoleh maksimal jika diiringi dengan amalan-amalan lainya.

Diriwayatkan di dalam hadits sahih muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda: “Hak orang muslim atas orang muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantarkan jenazahnya, mendatangi undangannya, dan mendoakannya ketika bersin.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Berilah makan orang yang lapar, jenguklah orang yang sakit, dan tolonglah orang yang kesusahan.”

Dalam Ktab Nailul-Authar, yang dimaksud dengan sabda Rasulullah saw. tentang ‘hak orang muslim’ ialah tidak layak ditinggalkan dan melaksanakannya ada kalanya hukumnya wajib atau sunnah muakkad yang menyerupai wajib. Sedangkan menggunakan perkataan tersebut –yakni haq (hak)—dengan kedua arti di atas termasuk bab menggunakan lafal musytarik dalam kedua maknanya, karena lafal al-haq itu dapat dipergunakan dengan arti ‘wajib’, dan dapat juga dipergunakan engan arti ‘tetap,’ ‘lazim,’ ‘benar,’ dan sebagainya.”

Begitu mulianya amalan menjenguk orang sakit, sampai-sampai Rasulullah bersabda. “Sesungguhnya apabila seorang muslim menjenguk orang muslim lainnya, maka ia berada di dalam khurfatul jannah.”

Dalam riwayat lain para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulullah, apakah khurfatul jannah itu?” Beliau menjawab, “Yaitu taman buah surga.”

Nah, sebelum kita semua melakukan amal kebajikan ini, berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan bagi siapa saja yang hendak menjenguk orang sakit;

Bertanya tentang Kondisi Si Sakit kepada Keluarganya

Tentu, ketika seseorang menjenguk si sakit, maka ia juga bertemu juga dengan keluarganya. Hendaknya penjenguk menanyakan kondisi si sakit kepada mereka terlebih dahulu. Karena mereka juga memahami benar kondisi kesehatan si sakit.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa suatu saat Ali bin Abu Thalib pergi, setelah ia berada bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (SAW) di saat beliau menderita sakit, yang menyebabkan wafatnya beliau. Orang-orang mengatakan,”Wahai Abu Hasan (julukan Ali bin Abi Thalib), bagaimana keadaan Rasulullah (SAW)?” Ia menjawab,”Pagi ini alhamdulillah, beliau sembuh.” (Riwayat Bukhari).

Bertanya kepada Si Sakit tentang Kondisinya

Walau sudah mengetahui keadaan si sakit lewat keluarganya, perlu juga bertanya kepada si sakit, disamping untuk memperoleh informasi tambahan, bertanya kepadanya bisa meringankan, karena ia merasa ada yang memperhatikan kondisinya.

Rasulullah (SAW) bersabda,”Kesempurnaan menjenguk orang sakit…hendaknya salah satu diantara kalian meletakkan tangannya di atas kening si sakit atau tangannya dan mengatakan kepadanya, bagaimana keadaannya.” (Riwayat Tirmidzi).

Mendoakan si Sakit

Dari Sa’ad bin Abi Waqash Radhiyallahu ‘anhu (RA) ia berkata,”Rasulullah (SAW) menjenguk saya ketika saya sakit dan mengatakan,”Allahumma isyfi Sa’dan, allahumma isyfi Sa’dan, allahumma isyfi Sa’dan.” (Riwayat Muslim).


Doa itu bermakna, ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad. Selain doa ini, ada pula beberapa doa yang lainnya.

Berpesan kepada Keluarga Si Sakit agar Melayaninya dengan Baik

Sesungguhnya seorang perempuan dari Juhainah mendatangi Rasulullah (SAW) dalam keadaan hamil karena perzinaan lalu ia mengatakan,”Wahai Rasulullah, saya telah terkena hadd, maka lakukanlah itu kepada saya.” Maka Rasulullah (SAW) mendatangi walinya dan berpesan,”Perlakukanlah ia dengan baik…” (Riwayat Muslim).

Para ulama menyamakan kondisi hamil dengan sakit. Sehingga Imam Nawawi menjadikan hadits ini sebagai dalil atas dianjurkannya berpesan kepada keluarga agar memperlakukan si sakit dengan baik.

Menghibur Si Sakit
Agar si sakit merasa tenang, dianjurkan juga penjenguk menghiburnya. Rasulullah (SAW) bersabda,”Jika kalian mengunjungi orang sakit…hilangkan kekhawatirannya mengenai ajal, itu tidak bisa menolak apapun, akan tetapi bisa menghibur dirinya.” (Riwayat Tirmidzi).

Ibnu Alan menjelaskan, bahwa menghibur si sakit bisa menggunakan ungkapan, Allah akan memperpanjang umurmu atau Allah akan menyembuhkanmu.

Menyebut Kebaikan Si Sakit

Menyebut kebaikan si mayit, bisa membesarkan hatinya, terutama dalam menghadapi situasi yang membuat si sakit khawatir. Ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim.

Dari Ibnu Syumamah, ia berkata,”Kami menghadiri Amru bin Ash (RA) dan beliau telah mendekati ajal. Beliau menangis lama, kemudian memalingkan wajahnya ke dinding, hingga putra beliau mengatakan,”wahai ayah, bukankah Rasulullah telah memberi kabar gembira kepadamu dengan begini?” Bukankah Rasulullah telah memberi kabar gembira kepadamu dengan begini?” Bukankah Rasulullah telah memberi kabar gembira kepadamu dengan begini?” (Riwayat Muslim).

Meminta Doa kepada Si Sakit

Menjenguk si sakit memberi manfaat juga kepada si penjenguk, karena doa si sakit lebih mudah terkabul. Sehingga dianjurkan agar penjenguk meminta doa kepada si sakit. Rasulullah (SAW) bersabda,”Jika kalian mengunjugi orang sakit…maka mintalah agar ia mendoakanmu. Sesungguhnya doanya seperti doa para malaikat.” (Riwayat Ibnu Majah). [tho/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar







SUBAHANNALLOH...!!! Rahasia Keutamaan Hari Jumat yang tidak banyak dari kita mengetahuinya..!



Andaikata Rasulullah masih hidup, beliau pasti membenci sineas Indonesia yang menjadikan hari Jumat seolah hari menakutkan dan horor


         Novelis Ayu Sutrisna (diperankan Suzanna) sering mengalami tangan gemetar dan keringat dingin keluar karena mengidap phobia tertentu. Anton (diperankan Alan Nuari), psikiater dan sekaligus pacar yang merawatnya, menganjurkan hidup santai dan menghindari suasana sibuk dan bising.

Ia pun menyepi di sebuah rumah tua milik ayah Anton. Namun dua penjaga rumah tua itu mati mengerikan ketika mencoba memperkosa Ayu. Mereka diperkirakan dibunuh setan. Akhirnya tabir terbuka, ayah Anton mengaku bahwa istrinya telah melahirkan bayi di malam Jumat Kliwon dan terbunuh.

Malam Jumat Kliwon adalah film horor Indonesia yang dirilis pada tahun 1986. Film yang disutradari oleh Sisworo Gautama Putra ini dibintangi antara lain oleh Suzanna dan Alan Nuari.

Malam Jumat Kliwon adalah film horor Indonesia yang dirilis pada tahun 1986. Film yang disutradari oleh Sisworo Gautama Putra ini dibintangi antara lain oleh Suzanna dan Alan Nuari.

Alkisah, di atas era 80-an dan seterusnya, para sineas lain di Indonesia menjadikan hari Jumat sebagai hari menakutkan. Hampir bisa disaksikan di semua TV atau film-film horor, menjadikan hari Jumat sebagai hari “kebangkitan” para setan. Walhasil, hari Jumat adalah hari menyeramkan!

Begitulah para sineas Indonesia yang telah ikut menyumbang keburukan dengan menjadikan Hari Jumat seolah-oleh hari paling sial dan menakutkan. Andai Rasulullah masih hidup di tengah-tengah kita, mungkin baginda akan marah besar. Betapa tidak, karena baginda Rasulullah sangat memuliakan hari Jumat. Dalam banyak riwayat, Rasulullah bahkan meminta kita memuliakan hari itu.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah bersabda. “Hari terbaik di mana matahari terbit di dalamnya ialah hari Jumat. Pada hari itu Adam Alaihis Salam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan daripadanya dan kiamat tidak terjadi kecuali di hari Jumat.” [Riwayat Muslim]

Rasulullah juga pernah bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

Keistimewaan lain hari Jumat adalah saat-saat dikabulkannya doa, yaitu saat-saat terakhir setelah shalat ashar (seperti yang dijelaskan dalam banyak hadits) atau di antara duduknya imam di atas mimbar saat berkhutbah Jumat sampai shalat selesai ditunaikan.

Amalan Mulia

Allah mengkhususkan hari Jumat ini hanya bagi kaum Muslimin dari seluruh kaum dari umat-umat terdahulu. Di dalamnya banyak rahasia dan keutamaan yang datangnya langsung dari Allah.

Beberapa rahasia keagungan hari Jumat adalah sebagai berikut;

Pertama, Hari Keberkahan. Di mana di hari Jumat berkumpul kaum Muslimin di masjid-masjid untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah Jumat yang mengandung pengarahan dan pengajaran serta nasihat-nasihat yang ditujukan kepada kaum muslimin yang kesemuanya mengandung manfaat agama dan dunia. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menyebut hari Jumat memiliki 33 keutamaan. Bahkan Imam as-Suyuthi menyebut ada 1001 keistimewaan.

Kedua, Hari Dikabulkannya doa. Di antara rahasia keutamaan hari Jumat lain adalah, di hari itu terdapat waktu-waktu dikabulkannya doa.

“Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [HR.Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.” [Muttafaqun Alaih]

Ketiga, Hari Diperintahkannya Shalat Jumat. Rasulullah bersabda, “Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari meninggalkan shalat Jumat. Atau (jika tidak) Allah pasti akan mengunci hari mereka, kemudian mereka pasti menjadi orang-orang yang lalai.” [Muslim]. Dalam riwayat lain Rasulullah menyebutkan, “Shalat Jumat adalah hak yang diwajibkan kepada setiap Muslim kecuali empat orang; budak atau wanita, atau anak kecil, atau orang sakit.” [Abu Daud]

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS: Al-Jumu’ah:9]

“Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas dan mendengar khutbah dari awal, berjalan kaki tidak dengan berkendaraan, mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalatnya..”

,Keempat, Hari Pembeda antara Islam dan Non-Muslim. Hari Jumat adalah hari istimewa bagi kaum Muslim. Selain itu diberikan Nabi untuk membedakan antara harinya orang Yahudi dan orang Nashrani.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” [HR. Muslim]

Kelima, Hari Allah menampakkan diri. Dalam sebuah riwayat disebutkan,Hari Jumat Allah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di Surga. Dari Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: “Dan Kami memiliki pertambahannya” (QS.50:35) mengatakan: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jumat.”

Masih banyak keistimewan hari Jumat. Di antaranya adalah; Dalam “al-Musnad” dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

“Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata’ala, lebih agung di sisi Allah Subhanahu Wata’ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Pada hari Jumat tersebut terdapat lima keistimewaan: Hari itu, bapak semua umat manusia, Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat. Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at.

Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya.



Etika Menyambut Hari Jumat

Mandi Jum’at [jenabat]

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang baligh berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda, yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit, dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi jenabat biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barangsiapa mandi Jumat seperti mandi jenabat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

A. Berpakaian Bersih dan Memakai Wangi-Wangian

Rasulullah berkata, “Siapa yang mandi pada hari Jumat, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi di antara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum’at.” [HR. Bukhari]

B. Menghentikan Aktivitas Jual-Beli dan Menyegerakan ke Masjid

Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)

C. Sholat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Jumat

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya ditambah tiga hari.” [HR. Muslim]

D. Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.”

E. Memperbanyak Shalawat.

Dari Anas ra, Rasulullah bersabda: “Perbanyaklah shalawat pada hari Jumat dan malam Jumat.” [HR. Baihaqi]

Dari Aus Radhiallahu ‘anhu, dia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bersabda: “Sebaik-baik hari kalian adalah hari Jumat: pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu sangkakala ditiup, pada hari itu manusia bangkit dari kubur, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku”, para shahabat bertanya: “wahai Rasulullah, bagaimana diperlihatkan kepada engkau sedangkan tubuh engkau sudah hancur (sudah menyatu dengan tanah ketika sudah wafat), Beliau menjawab: “sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para Nabi.” [HR, “al-Khamsah]

Mencintai Apa yang Dicintai Nabi

Rasulullah Muhammad adalah orang pilihan dan kekasih Allah SWT. Apapun amalan yang disukai Nabi adalah hal yang paling disukai Allah dan setiap amalan yang dibenci Nabi juga dimurkai Allah.

Bentuk kesungguhan kita mencintai Rasulullah Saw adalah berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh mengikuti dan meneladani apa yang telah beliau lakukan. Sebagaimana firman Allah SWT; Artinya, ”Apa saja yang dibawa oleh Rasul untuk kalian, ambillah, dan apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah.” [QS. al-Hasyr [59]: 7]

Dalam ayat lain disebutkan, Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” [Qs. Ali-Imran [3]: 31].

Karena itu, apapun yang sudah ditetapkan Nabi –termasuk memuliakan hari Jumat– adalah sesuatu yang sudah pasti disukai Allah SWT. Sangatlah tidak pantas bagi kita sekalian mengada-adakan dan mengarang-ngarang sesuatu yang sesungguhnya tidak ada dan tidak pernah dilakukan Nabi kita.

Semoga setelah ini kita ikut menjadikan dan memuliakan hari Jumat. [cak, berbagai sumber/hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar


MASYA ALLAH...!!! Haram Buang Air Sembarangan, Begini penjelasan nya secara Islami




Suatu hari, Ahmad (30), naik angkutan umum. Setengah jam perjalanan, tepat di tepi jalan, sopir memberhentikan kendaraan. Seolah tanpa bersalah, sang sopir (maaf) mengeluarkan alat vitalnya lalu kencing di sebelah angkot, meski banyak penumpang dan orang-orang sedang lalu lalang di jalanan.

Betapa kagetnya Ahmad. Meski ia seorang warga dusun, pemandangan seperti ini baru kali ini ia lihat. Di tempatnya, di kampung terpencil, kencing sembarangan –apalagi di jalanan—adalah aib. Tapi kekagetan itu hanya berumur pendek. Sebab ketika angkot berhenti di pemberhentian terakhir, ia justru melihat pemandangan tak kalah mengagetkan. Para tukang ojek, kenek, sopir, bisa dengan tenang kencing di bawah ban, di samping mobil mereka.

Adalah seorang kafir jahiliyah berkata kepada sahabat Salman Al-Farisiy. “Sungguh Nabi kalian telah mengajari kalian tentang segala hal sampai tata cara buang air”. Ketika itu, sahabat Salman menjawab, “Betul. Sungguh kami dilarang menghadap kiblat saat buang air besar atau kecil, (kami juga dilarang) cebok dengan menggunakan tangan kanan atau cebok kurang dari 3 batu, atau cebok dengan kotoran hewan, atau tulang”. (HR. Muslim). Begitulah kekaguman seorang kafir kepada akhlak Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad.

***

Islam memang agama sempurna, sehingga dalam urusan ‘ke belakang’ pun ada aturan dan adabnya. Begitu pentingnya urusan ini dalam syariat Islam sehingga Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kerap memperingatkan umatnya agar senantiasa berhati-hati dalam urusan ini. Mengabaikan adab ini bisa berakibat mendapatkan adzab.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Rasulullah pernah melewati dua kuburan dari orang yang tengah mengalami siksa kubur. Kata beliau, yang seorang disiksa karena kerap menyakiti tetangganya dan yang seorang lagi disiksa karena senantiasa tidak sempurna bersuci (thaharah) setelah kencing. Na’udzubillah min dzalik.

Bersuci secara asal-asalan menyebabkan adanya kotoran yang bersifat najis tertinggal pada tubuh atau pakaian seseorang. Jika orang itu shalat, sementara ada najis di badan atau pakaiannya, maka shalatnya akan tertolak. Itulah sebabnya dia disiksa dalam kuburnya.

Sayangnya banyak orang, terutama kaum laki-laki, yang mengabaikan peringatan tersebut, kencing di sembarang tempat, seperti di pinggir jalan, tanpa melakukan thaharah sesuai syariat. Sebagian yang lain buang air besar di tempat-tempat terbuka, biasanya nongkrong di pinggir sungai, membiarkan auratnya terbuka dilihat orang yang sedang melintas. Celakanya, ada di antara mereka yang sudi membuang kotorannya di selokan yang airnya tidak mengalir. Sehingga tak pelak lagi, baunya akan menyebar ke mana-mana selain itu juga menimbulkan bibit penyaki.

Perilaku seperti itu jelas-jelas dikutuk Rasulullah Saw. “Takutlah (jauhilah) dua perbuatan terkutuk!”

Para sahabat bertanya, “Apakah kedua perbuatan itu wahai Rasulullah?”

Jawab Beliau, “Orang yang buang air besar di jalan tempat orang banyak melintas atau di tempat mereka berteduh (seperti di bawah pohon).” (H.R. Muslim).


Berikut ini adalah adab yang diajarkan Rasulullah tentang tatacara buang air besar dan kecil.

· Jangan menampakkan aurat kepada orang lain ketika buang air, usahakan mencari tempat yang tertutup. (H.R. Muslim)

· Jangan buang air di lubang binatang, di jalan tempat orang lewat, di tempat berteduh, di sumber air, di tempat pemandian, di bawah pohon yang sedang berbuah, atau di air yang mengalir ke arah orang-orang yang sedang mandi atau mencuci.” (H.R. Muslim, Tirmidzi)

· Abu Hurairah menceritakan, Rasulullah bersabda, ” Janganlah kamu kencing di air tenang, di mana kamu mandi pula di situ.” (H.R. Muslim)

· Masuklah ke dalam jamban (WC/toilet) dengan mendahulukan kaki kiri, ke luar dengan mendahulukan kaki kanan. (H.R. Tirmidzi)

· Sebelum masuk jamban, disunahkan membaca doa: Allahumma inni a’uu dzubika minal khubutsi wal khobaaits (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari bahaya kotoran dan dari segala macam yang membahayakan.). Khubutsi dan khabaaits oleh Ibnu Hibban al-Khaththabi, diartikan sebagai syaithan laki-laki dan syaithan wanita.

· Setelah keluar dari jamban disunnahkan membaca doa: Ghufronakal-hamdulillahilladzi adzhaba ‘anni adzaa wa ‘aafanii (Aku memohon ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dariku dan telah menyembuhkan aku.) (H.R. Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah).

· Jangan berlama-lama dalam jamban karena hal itu merupakan suatu mudharat. Apabila sudah selesai hajatnya, secepatnya keluar dari jamban. (H.R. Nasa’i, Ibnu Majah)

· Tidak boleh menjawab salam ketika berada di dalam jamban. Cara menjawabnya cukup dengan isyarat suara (H.R. Muslim, Tirmidzi, Nasa’i)

· Jangan membaca dan membawa lafadz Allah dan Muhammad atau ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam jamban. (H.R. Nasai)

· Bila terpaksa buang air di tempat terbuka, jangan menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya. Beliau bersabda: ” Apabila seseorang kamu buang air (besar atau kecil) janganlah menghadap atau membelakangi kiblat…”

· Pergunakanlah tangan kiri ketika membersihkan kemaluan dan dubur. Jangan menyentuhnya dengan tangan kanan. (H.R. Muslim)

· Bersucilah sebanyak bilangan ganjil minimal tiga kali. Barang-barang yang dibolehkan untuk beristinja yaitu air, batu, tanah liat yang keras atau kertas. (H.R. Bukhari Ibnu Majah). Semoga kita dapat melaksanakannya. [atw/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Rabu, 21 Desember 2016

Pesan Rasulullah Pada Wanita Saat Melayani Suami di Tempat Tidur ... No. 7 Sering Dilakukan Oleh Para Istri ... ASTAQFIRULLAH..



Melayani suami ditempat tidur adalah kewajiban seorang istri, dikarenakan hal tersebut termasuk tugas seorang istri untuk membahagiakan sang suami. Sebagai umat Rasulullah kita harus berusaha untuk melaksanakan setiap sunnah yang telah dicontohkan beliau. Dari beliau lah kita belajar menjalani hidup sesuai ajaran agama agar mendapatkan ridho dari Allah SWT.

Inilah Pesan Rasulullah Pada Wanita Saat Melayani Suami Di Tempat Tidur Dalam pernikahan, hubungan suami istri bukanlah hal yang tabu lagi. Justru, Islam menganjurkan pasangan suami istri untuk melakukan hubungan intim untuk melanjutkan keturunan. Namun terdapat hal-hal yang harus diperhatikan seorang wanita dalam melayani ajakan suaminya dalam hubungan ini, yaitu:

1. Memberi suasana kemesraan dengan memberikan tampilan menarik

Suami istri haruslah menjaga kemesraan mereka agar pernikahan dapat terjalin dengan baik. Cara yang bisa dilakukan seorang istri adalah dengan membuat tampilan yang menarik agar suami tidak berpaling ke lain hati.

2. Tidak membayangkan tubuh lelaki lain

Meskipun hanya sekedar membayangkan, Allah melarang wanita untuk itu. Karena kita sudah memiliki suami dan harus menjaga syahwat agar tidak tertarik dengan laki-laki lain.

3. Memenuhi ajakan suami sesegera mungkin

Salah satu tugas bagi seorang istri adalah melayani suami untuk membahagiakannya. Oleh karena itu, ketika ia meminta istri untuk melayaninya, maka secepat mungkin seorang istri harus melakukan permintaan suaminya itu, bahkan melayani suami di malam pertama.

4. Tampilan

mempesona setiap kali dilihat
Melihat orang yang dicintai merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi manusia. Begitu juga dengan suami yang sangat bahagia ketika istrinya bersikap lemah lembut, terlebih dengan tampilan yang mempesona.

5. Tidak berhubungan saat nifas dan haid

Sebuah dalil telah menjelaskan bahwa dilarang bagi wanita yang mengalami haid dan nifas melakukan hubungan suami istri. Selain karena haram hukumnya, secara medis hal ini juga akan memberikan kerugian bagi wanita. Ia akan mengalami sakit yang luar biasa apabila melakukan hubungan suami istri saat haid atau nifas.


6. Tidak berhubungan lewat dubur

Rasul telah menjelaskan cara melakukan hubungan suami istri dengan baik. Allah juga telah menciptakan jalan yang benar untuk melakukan hubungan ini. Dubur adalah jalan yang dilarang oleh Allah ketika berhubungan. Oleh karena itu, jangan melakukan hubungan suami istri melalui dubur karena akan menyakitkan sang istri.

7. Tidak memandangi bagian vital sang suami

Selama melakukan hubungan, jangan memandangi bagian vital suami karena ini akan meningkatkan syahwat meskipun sedang tidak melakukannya. Inilah salah satu pesan bercinta dari Rasulullah.

8. Mengetahui etika berhubungan dengan benar

Etika berhubungan suami istri sangat dibutuhkan agar kita tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.

9. Menata kenyamanan tempat tidur dengan baik

Tempat tidur adalah tempat terpenting dalam melakukan hubungan suami istri. Oleh karena itu, sebisa mungkin seorang wanita harus bisa membuat tempat itu menjadi nyaman untuk digunakan.

10. Merahasiakan urusan di ranjang pada orang lain

Hubungan suami istri adalah rahasia mereka jadi tidak ada orang lain yang boleh tahu, meskipun itu orang terdekat sekalipun.

Berdasarkan penjelasan pesan Rasulullah kepada wanita di atas, terdapat banyak hal yang harus kita perhatikan sebelum melakukan hubungan suami istri. Memahami beberapa sunnah Rasul mengenai hal ini akan membantu kita dalam mengerti etika sesuai ajaran Islam. Demikianlah pesan Rasulullah pada wanita saat melayani suami di tempat tidur.

semoga bermanfaat ...

Sumber : kumpulanmisteri.com



Selasa, 20 Desember 2016

Begini Cara Minta Maaf Atas Kedurhakaan Kita Kepada Almarhum Orang Tua Jika Mereka Sudah Meninggal..




sejak kecil hingga dewasa anak mesti pernah berbuat salah baik disengaja maupun tidak terhadap orang tua. Perbuatan salah harus disusul dengan permohonan maaf terlebih lagi terhadap orang tua sendiri. Kalau mereka masih hidup, anak harus mendatangi mereka dan memperlakukan mereka secara terhormat.

Kalau pun mereka sudah tiada, tuntutan permohonan maaf tidak gugur. Anak tetap diminta untuk memohon maaf kepada orang tua yang telah berpulang. Demikian disebutkan Abu Bakar bin Sayid M Syatho Dimyathi dalam karyanya Hasyiyah I‘anatut Thalibin ala Fathil Mu‘in.

ويندب زيارة قبور لخبر "ما من أحد يمر بقبر أخيه كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا عرفه" ويتأكد ندب الزيارة في حق الأقارب خصوصا الأبوين، ولو كانوا ببلد آخر غير البلد الذي هو فيه.
Ziarah kubur dianjurkan berdasarkan hadits Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam, “Tiada seorang pun melewati makam saudaranya yang selagi di dunia saling mengenal, lalu ia mengucap salam kepadanya, niscaya ahli kubur mengenalinya”.
Sementara ziarah ke makam kerabat khususnya orang tua sendiri sangat dianjurkan kendati letak makam mereka berbeda kota dengan mereka yang masih hidup.


Ziarah kubur berikut adab-adab dan kesunahannya menurut penulis I‘anatut


Thalibin merupakan alternatif bagi mereka yang tidak sempat meminta maaf kepada orang tua karena pelbagai hal. Abu Bakar bin Sayid MSyatho
LINK 200x90 style="text-align: justify;">
Dimyathi dalam karyanya mengutip hadits sebagai berikut.

فقد روى الحاكم عن أبي هريرة رضي الله عنه "من زار قبر أبويه أو أحدهما في كل جمعة مرة غفر الله له وكان بارا بوالديه"
Imam Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah RA. Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja menziarahi makam kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya sekali setiap Jumat, niscaya Allah hapus dosanya. Ia pun dinilai sebagai anak berbakti kepada orang tuanya.”
Penulis I‘anatut Thalibin mengutip hadits lainnya perihal cara berbakti sepeninggal kedua orang tua.

وروي "إن الرجل لا يموت والداه وهو عاق لهما فيدعو الله لهما من بعدهما فيكتبه الله من البارين"
Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam bersabda, “Sungguh seseorang yang durhaka ketika kedua orang tuanya wafat, lalu ia mendoakan keduanya selepas keduanya berpulang, niscaya Allah akan mencatatnya sebagai anak berbakti.”
Uraian di atas mengisyaratkan bahwa anak diminta untuk memperlakukan kedua orang tua secara terhormat selagi keduanya hidup. Anak diharapkan menggunakan kesempatan emas itu untuk membaktikan diri sebelum mereka wafat. Sedapat mungkin anak menghindar dari perilaku yang membuat keduanya murka. Wallahu a’lam. (Alhafiz K/NU Online)
Bersedekahlah, lalu minta sama Allah agar pahala sedekah itu diberikan kepada almarhum orang tua.
Baca Al Quran, zikir atau shalawat , lalu minta kepada Allah agar pahala bacaan tersebut diberikan kepada almarhum orang tua kita, insya Allah bermanfaat.

Sumber: tausiah via suara


Suami Suruh Istri Bekerja, Wajibkah Dipatuhi? Begini Penjelasan nya dalam IslamSuami Suruh Istri Bekerja, Wajibkah Dipatuhi? Begini Penjelasan nya dalam Islam


TANYA: Apakah boleh suami memerintahkan istrinya untuk bekerja mencari nafkah demi menghidupi kebutuhan keluarga?


JAWAB: Dikutip dari rumahfiqih.com, jawabannya tentu tidak boleh. Sebab seorang wanita dinikahi tentu bukan untuk disuruh kerja cari nafkah. Dan seorang istri tidak perlu mentaati suaminya, manakala perintahnya adalah mencari nafkah. Sebab tugas mencari nafkah itu beban suami dan bukan beban istri.

Ketaatan seorang istri itu hanya sebatas apa yang memang tugas istri. Itu pun para ulama masih berbeda pendapat. Jumhur ulama mengatakan bahwa urusan di dalam rumah tangga seperti memasak, menyapu, mengepel, bersih-bersih, mencuci pakaian dan seterusnya, ternyata juga bukan tugas istri. Semua itu tugas dan tanggung-jawab suami.

Yang terjadi di bangsa kita, mungkin bukan hal yang aneh lagi. Istrinya bekerja cari uang buat keluarga, kadang jadi pembantu, dan tidak sedikti yang terbang ke luar negeri jadi TKI dengan segala resikonya. Tiap bulan kirim uang nafkah buat menghidupi suami dan anak-anak.

Namun buat bangsa lain, khususnya orang Arab, rasanya sangat ganjil dan aneh. Sebab sesuai adat dan syariat, justru yang wajib bekerja mencari rezeki dan memberi nafkah adalah suami dan bukan istri. Sama sekali tidak terbayang bagaimana para istri malah bekerja cari uang peras keringat banting tulang untuk menghidupi suami dan anak-anaknya.

Dan yang semakin bikin tambah heran, ternyata wanita Indonesia tidak merasa dizalimi apalagi dirugikan ketika ikut membantu mencari nafkah keluarga. Justru mereka suka, senang, dan malah bangga bisa membantu nafkah keluarga.



(Purwanto WB)
















Senin, 19 Desember 2016

SUBHANNALOH....!!!! Manfaat Berdoa Untuk Menumbuhkan Hormon Kegembiraan "Dopamine"


Manfaat berdoa ternyata bukan hanya semata supaya keinginan dan hajat yang diminta kepada Tuhan dikabulkan. Lebih dari itu, berdoa punya manfaat meningkatkan hormon gembira yang bernama dopamine.

Berdoa adalah aktivitas yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Koneksi antara hamba dengan Tuan yang maha Agung sebagai pencipta alam semesta ini ternyata menurut penelitian ilmiah dapat meningkatkan kadar dopamine pada otak manusia.


Dengan meningkatnya hormon gembira itu, maka Anda menjadi lebih damai dan bahagia. Ditinjau dari ilmu kesehatan, gembira dan rasa damai bisa membuat tubuh menjadi sehat bugar.

Sebaliknya, sedih dan stres akan menimbulkan beragam penyakit yang datang. Itulah sebabnya, agama Islam maupun agama lainnya seperti Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu atau agama manapun mengajarkan kita untuk selalu berdoa.

Dengan berdoa, kebahagiaan dan rasa damai akan muncul dalam diri manusia. Dengan bahagia, manusia akan semakin sehat. Kita tahu, kesehatan sangat mahal harganya. Puluhan, bahkan ratusan juta rupiah ditempuh demi kesehatan bisa pulih kembali.

Jadi, kita semakin tahu bahwa berdoa yang menjadi anjuran semua agama ternyata punya manfaat dan khasiat yang luar biasa bila ditinjau dari ilmu pengetahuan atau sains. Benar-benar ilmiah dan rasional. Subhanallah

Belum lagi, ketika manusia berdoa kepada Tuhan dan doa itu disimpan dalam memori bernama "cita-cita" yang melekat dalam hati dan pikiran manusia, maka alam semesta akan berupaya mewujudkan cita-cita itu.

sumber : islamcendekia



LUAR BIASA....!! Mengupas Keutamaan Berpuasa Sunah Hari Senin dan Kamis



Puasa sunah Senin dan Kamis merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Puasa ini kerap dijalankan Rasulullah Muhammad SAW.

Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah, At Tirmidzi, dan An Nasai, Rasul bersabda: " Dari 'Aisyah radliallahu 'anha, bahwa Nabi sholallahu 'alaihi wa salam sering melakukan puasa Senin dan Kamis."

Namun, di benak sebagian umat Islam mungkin muncul pertanyaan, mengapa dilaksanakan di hari Senin dan Kamis? Apakah hari-hari lain tidak memiliki keutamaan?

Terkait hal ini, dua hari tersebut memang memiliki keistimewaan tersendiri dibanding dengan hari-hari yang lain. Di dua hari ini, pintu surga dibuka lebar.


Dosa-dosa orang Mukmin akan diampuni di dua hari ini. Kecuali mereka yang sedang bermusuhan.

Hal ini seperti tertuang dalam hadits yang diriwayatkan Muslim.

" Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: 'Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap orang ini sampai keduanya berdamai'."

Latar belakang puasa Senin dan Kamis


Latar belakang yang menjadi dasar kenapa muslim melaksanakan puasa sunnah Senin dan Kamis. Rasulullah saw. dilahirkan pada hari Senin dan pada hari ini pula Rasulullah mendapatkan wahyu dari Allah swt. Serta pada hari Senin dan Kamis amalan-amalan seorang hamba diangkat.

(Cang Karna,WB)
 

Minggu, 18 Desember 2016

MASYA ALLAH...!!! Ini Konsekuensinya.... Masih Berani Pakai Mahar Al-Quran dan Seperangkat Alat Sholat ???




“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS. An-Nisa: 4)"


“Saya terima nikah dan kawinnya Nabila binti Ahmad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan mushaf Al-Qur’an dibayar tunai!”

Sering kita dengar kata-kata ini ketika menghadiri akad nikah sesesorang. Bagi yang beragama Islam, pasti mas kawin berupa peralatan sholat dan mushaf Al-Qur’an sudah menjadi sebuah keniscayaan. Apalagi di negara yang katanya mayoritas Islam ini, aneh rasanya apabila ada seorang Muslim yang tidak menyertakan 2 mas kawin wajib itu dalam akad nikahnya.

Tapi sangat disayangkan, setelah akad nikah selesai, perlengkapan sholat yang dijadikan sebagai mahar terbungkus rapi di dalam lemari tak pernah tersentuh.

Tak jauh beda dengan mushaf Al-Qur’an yang dijadikan mas kawin tersimpan rapi di rak buku dan hampir berdebu. Dua barang yang dijadikan sebuah keniscayaan dalam mas kawin itu hanya menjadi pajangan usai ijab kabul. Padahal ada makna spesial dibalik pemberian perlengkapan sholat dan mushaf Al-Qur’an sebagai mahar.

Ketika seorang mempelai pria mengucapkan ”Saya terima nikah dan kawinnya fulanah binti fulan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan mushaf Al-Qur’an“, ada ’beban‘ baru yang dipikulnya.

Beban itu adalah sang suami berkewajiban untuk mengajarkan sholat kepada sang istri yang disimboli dengan pemberian seperangkat alat sholat. Suami juga berkewajiban untuk menjaga sholat istrinya dengan terus mengingatkannya dan membimbingnya supaya tidak melewatkan kewajiban yang satu ini.Karena sholat adalah amalan pertama kali yang akan dihisab pada yaumul hisab kelak.


Begitu pula dengan mas kawin berupa mushaf Al-Qur’an. Mungkin bagi sebagian orang dua mahar ini dianggap sebagai mahar yang murah meriah dan mudah didapatkan di negara yang mayoritasnya muslim ini.

Tapi sebenarnya mahar mushaf Al-Qur’an adalah mahar termahal yang diberikan seorang suami kepada istrinya.Mengapa? Karena dengan memberikan mushaf Al-Qur’an, berarti suami wajib untuk mengajarkan istrinya semua isi dari Al-Qur’an yang diberikannya kepada istri dari surat Al-Fatihah hingga surat An-Naas.

Suami


berkewajiban untuk mengantarkan istrinya kepada akhlaqul qur’an. Suami juga berkewajiban untuk membawa keluarganya kepada kehidupan rumah tangga berdasarkan Al-Qur’an dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan rumahtangganya. Bagaimana mahal banget kan mahar yang satu ini?
Sangat disayangkan ternyata realitas yang ada tidak demikian. Mushaf yang dulunya dibungkus rapi sebagai mahar itu tetap terbungkus rapi dalam plastik bening bergambar hati yang kini tergeletak didalam buffet.

Tak jauh berbeda dengan seperangkat alat sholat yang dulunya dibungkus rapi di dalam keranjang yang dihiasi kertas berwarna-warni kemudian dibungkus dengan plastik bening yang juga bergambar hati itu tersimpan rapi disebelah mushaf Al-Qur’an. Dan dengan bangganya si empunya barang tersebut memamerkan kepada tamu yang hadir, “Ini lho mahar yang dulu diberikan suami saya!”
Subhanallah... ga d bc aja bangga.

Padahal, menurut M Arief, petugas di Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Kota Banjarmasin, ada tanggung jawab tidak ringan bagi pengantin pria yang memberikan mahar seperangkat alat solat ini.

“Dia harus mengajarkan dan menuntun sang istri untuk membaca Alquran dan menjalankan salat fardu yang wajib. Minimal seperti itu,”

Lain halnya, menurut dia, sang istri memang seorang muslimah yang rajin mengaji dan taat beribadah, sehingga artinya mahar seperti ini untuk memberikan dukungan.

“Kan tidak semua mempelai perempuan itu muslimah yang taat. Kalau kondisinya demikian dan suami nantinya tidak akan mampu membimngin agar istri rajin mengaji dan taat beribadah, lebih baik mahar yang diserahkan benda lain saja,” ujarnya.

Tak jadi masalah apabila mahar yang diberikan itu sengaja disimpan, karena memiliki mushaf dan peralatan sholat lain.

Yang jadi masalah adalah ketika, seusai ijab kabul suami masa bodoh dengan janji yang dulu diucapkannya dan tidak mengindahkan ‘beban’ baru yang harus dipikulnya.

Seorang suami memiliki kewajiban untuk menjaga istri dan anak-anaknya dari api neraka, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat At-Tahrim ayat 6 :

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻗُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻫْﻠِﻴﻜُﻢْ ﻧَﺎﺭًﺍ …
”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...“

Adh-Dhahak berkata adalah kewajiban bagi seorang Muslim untuk mengajarkan keluarganya, kerabatnya, serta hamba sahaya yang dimilikinya apa-apa yang diwajibkan Allah dan apa-apa yang dilarang Allah. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim,Ibnu Katsir)

Dalam kehidupan rumah tangga tanggungjawab ini diamanahkan kepada suami sebagai imam dalam keluarga. So... buat para istri yang mendapatkan mahar seperangkat alat sholat dan mushaf Al-Qur’an tapi belum diajarkan isi dari Al-Qur’an,jangan ragu untuk menagihnya kepada suami.

Sekalian mengingatkan suaminya, amanat yang mungkin terlupakan oleh suami. Dan untuk para suami yang ketika akad nikah memberikan mahar seperangkat alat sholat dan mushaf Al-Qur’an, dan belum memiliki andil dalam menjaga sholat istrinya dan mengajarkan isi Al-Qur’an yang diberikan, hayuu atuh diajarkan istrinya.

Biar istrinya makin sholehah, dan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, yang diimpikan bisa tercapai.

Sumber (http://berdakwah-media.blogspot.co.id/2016/11/wajib-baca-ini-konsekuensinya-masih.html)




ASTAGFIRULLAHALADZIM BACA INI !! ‘Aplikasi Si Muka Anjing’, Inilah Hukumnya dalam Islam


ZAMAN yang terus berkembang, membuat para manusia pun berpikir lebih cemerlang. Mereka mulai beradaptasi dengan dunia. Mereka membuat perubahan-perubahan demi kemajuan peradaban dunia. Salah satunya dengan membuat teknologi. Dimana, hal ini akan mempermudah seseorang dalam menjalankan kehidupannya.

Kecanggihan tekonologi, bukan hanya dimanfaat dalam hal yang penting saja. Dalam hiburan pun bisa. Salah satunya, aplikasi snapchat.

Jaman sekarang siapa sih yang tidak tau dengan snapchat? Aplikasi dengan logo berwarna kuning dan putih ini kini seakan menjadi aplikasi wajib yang harus dimiliki oleh anak-anak kekinian. Aplikasi ini berfungsi untuk membagi kegiatan sehari-hari lewat foto dan video yang dapat diedit menggunakan caption dan efek-efek tertentu.

Salah satu efek yang sedang ‘ngehits’ saat ini adalah efek si muka anjing. Tentu tahu dong? Foto-foto atau video dengan tambahan telinga, hidung dan lidah anjing ini kini seperti menjadi candu sendiri di dunia maya.

Tapi, sebagai muslim, kita mungkin mengerti, bahwa anjing merupakan salah satu hewan yang tidak begitu berarti. Bahkan, jika kita sampai terkena air liurnya saja membuat diri kita terkena najis. Tapi, mengapa banyak orang menyukainya? Lantas, bagaimana Islam memandang hal ini?



Dalam Al-Quran surat Al-A’raf ayat 176, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”

Dari ayat Al-Quran ini sudah jelas bahwa yang menjulurkan lidah termasuk salah satu perbuatan yang sangat amat rendah derajatnya. Walau pun tidak secara langsung, namun penggunaan aplikasi tersebut, yang menyerupai dengan hewan anjing, berarti si pengguna selayaknya ingin disamakan dengan anjing, Naudzubillah.


Mungkin memang cukup kasar bila kita mengatakan bahwa orang-orang yang mengikuti trend penggunaan aplikasi “si muka anjing” tersebut ingin menyerupai anjing, walaupun sejatinya mereka marah ketika disebut menyerupai perilaku seekor anjing.

Namun, hakikatnya manusia adalah makhluk yang diberikan akal dan fikiran oleh Allah. Apakah pantas manusia mengikuti atau menyerupai perilaku binatang ? Tentu sangat tidak pantas apabila manusia mengikuti perilaku binatang yang tidak berakal dan hanya mengandalkan naluri dan hawa nafsunya saja.

Oleh karena itu, berusahalah untuk tidak lagi menyamakan wajahnya dengan anjing. Agar Anda tidak termasuk salah seorang yang merugi. Wallahu ‘alam. []

(Sumber: www.reportaseterkini.net)

Jumat, 16 Desember 2016

SUBHANNALLOH...!!! Doa yang Paling Sering Diucapkan Rasulullah SAW


Siapa saja ingin meraih kebaikan sebanyak-banyaknya di dunia ini. Demikian pula untuk akhiratnya, ia pun berharap memperoleh kenikmatan, hingga kehidupannya menyenangkan, jauh dari siksa neraka yang membinasakan.

Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, menceritakan upaya untuk bisa meraih kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, sangat menjadi perhatian serius dalam doa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . Doa inipun menjadi doa yang sering beliau Shallallahu alaihi wa sallam lantunkan.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dari Anas Radhiyallahu anhu , ia berkata: “Doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling sering diucapkan ialah: “Ya Allah, Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka”. [al-Bukhâri no. 6389 dan Muslim no. 2690].

Dalam riwayat Muslim, doa tersebut berbunyi:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Pengertian kebaikan dunia mencakup seluruh yang dibutuhkan manusia di dunia, sehingga dengannya ia akan menjadi baik. Misalnya, sehat, rizki yang lagi halal, rumah tinggal yang nyaman, istri shalihah, anak-anak penyejuk mata, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, ketentraman, dan lain-lain.

Sedang kebaikan di akhirat, Ibnu Katsir rahimahullah mengartikan: “Kebaikan di akhirat yang tertinggi ialah berhasil masuk surga dan menikmati kondisi-kondisi yang menyertainya, seperti perasaan aman dari ketakutan yang paling dahsyat di ‘arashât, dimudahkan proses hisâb (perhitungan amalan), dan lain-lain yang merupakan kejadian-kejadian yang menyenangkan di akhirat kelak”.

Doa yang mulia itu ditutup dengan permohonan agar terlindung dari siksa neraka. Maknanya, yaitu harapan untuk memperoleh kemudahan dalam menjauhi faktor-faktor datangnya siksaan, dengan menjauhi larangan, dosa dan syubhat-syubhat.

Perawi hadits di atas, Anas bin Maalik Radhiyallahu anhu kemudian menjadikan doa tersebut bak doa wajib tiap kali saat memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Untuk lebih mengetahui betapa penting doa di atas, Imam Muslim rahimahullah (Shahîh Muslim no. 2688) telah meriwayatkan, pernah terjadi peristiwa, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengunjungi seseorang yang sedang sakit. Kondisi orang yang sakit ini sudah sangat mengenaskan. Beliau pun menanyakan asal-muasal kejadian: “Apakah engkau berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah (sebelumnya)?”

Lelaki itu menjawab: “Ya. Sebelumnya aku berkata, ‘Ya Allah, hukuman yang akan engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah atas diriku di dunia ini,” maka beliau Shallallahu alaihi wa sallam berkata: “Subhanallah, engkau tidak akan sanggup memikulnya. Mengapa engkau tidak berdoa:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Begitu juga, kejadian menarik pernah dialami Anas bin Mâlik. Sahabat mulia ini diminta untuk mendoakan orang-orang yang mendatanginya. Lantas beliau berdoa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَ رْاْحَمْنَا, آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Ya Allah, ampunilah kami, kasihilah kami rahmat. berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka).

Mereka meminta doa yang lain. Maka Anas Radhiyallahu anhu memanjatkan doa yang sama, kemudian berkata: “Seandainya kalian telah dianugerahi ini, sungguh kalian telah dianugerahi kebaikan dunia dan akhirat”. [Shahîh al-Adabil-Mufrad, 494].


Qatadah bin Da’amah As Sadusi pernah bertanya kepada Anas bin Malik rahimahullah, “Doa apa yang  paling sering diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Anas menjawab, “Doa yang paling sering diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

للَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

YA, ALLAH, BERIKANLAH KEPADA KAMI KEBAIKAN DI DUNIA DAN KEBAIKAN DI AKHIRAT SERTA JAUHKANLAH KAMI

DARI AZAB NERAKA’.”

Dan adalah Anas, jika diminta mendoakan, berdoa dengan doa itu. Jika hendak berdoa, di dalamnya

berdoa dengan doa itu.”

RUJUKAN: Muslim bin Hajjaj Al Qusyairi An Naisaburi. Shahih Muslim al Musamma Al Musnad Ash

Shahih Al Mukhtashar min As Sunan bi Naqli Al ‘Adl ‘an Al ‘Adl ila Ar Rasul shallallahu ‘alaihi

wa sallam. Riyadh: Dar Ath Thayyibah. 1426H/2006M, halaman 1239-1240.

(Diadaptasi dari Fiqhul-Ad’iyah wal-Adzkâr, Prof. Dr. ‘Abdur-Razzâq al-Badr, Volume IV, halaman 120-121)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Cara Melakukan Tawassul yang Benar kepada Allah



Pertanyaan:

Bagaimana cara kita ber-tawassul kepada Allah?

Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullah menjawab:


Tawassul, di antaranya, ada yang boleh dan ada yang dilarang.

[A] Tawassul yang boleh dan disyariatkan adalah [1] tawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat 

Allah dan [2] tawassul dengan amalan shalih. Allah ta’ala berfirman,

وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Dan milik Allah-lah nama-nama yang paling baik. Maka, berdoalah dengan nama-nama itu.” (QS. Al 

A’raf: 180)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ

“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan [wasilah] menujuNya.” (QS. 

Al Ma-idah: 35)



Maksudnya, mendekatlah kepada Allah dengan menaatiNya dan beramallah dengan apa-apa yang di-

ridho-iNya. Disebutkan ini oleh Ibnu Katsir, mengutip ucapan Qatadah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمِ هُوَ لَكَ

“Aku memohon kepadaMu [ya, Allah] dengan setiap nama yang Engkau miliki.” (HR. Ahmad dan 

disahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam kitab Shahih At Targhib wa At Tarhib)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda kepada sahabat beliau yang meminta 

beliau agar menemani beliau di Surga,

أَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ

“Bantulah aku [untuk memenuhi permintaanmu itu] dengan banyak sujud.” (HR. Muslim)

Maksudnya, [banyak] shalat dan ini termasuk amalan shalih.

Boleh juga ber-tawassul dengan kecintaan kita kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada wali-

wali Allah, seperti kisah orang-orang yang terjebak di gua yang mereka ber-tawassul dengan 

amalan-amalan shalih mereka—sehingga Allah pun memberi mereka jalan keluar.

[B] Tawassul yang dilarang adalah berdoa kepada orang-orang yang sudah meninggal dunia dan 

meminta keperluan kepada mereka, sebagaimana yang terjadi pada hari-hari ini dan ini syirik 

besar. Sebab Allah ta’ala berfirman,

وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kalian menyembah siapa saja selain Allah yang tidak bisa memberi manfaat dan 

bahaya. Sebab jika engkau kerjakan itu, maka engkau sesungguhnya termasuk orang-orang yang 

zalim.” (QS. Yunus: 106)

[“Termasuk orang-orang yang zalim”] maksudnya, termasuk orang-orang musyrik.

Adapun ber-tawassul dengan kemuliaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti ucapan, 

“Wahai Rabbku, dengan kemuliaan Muhammad, sembuhkanlah aku,” maka ini adalah bid’ah. Sebab para 

sahabat nabi tidak mengerjakannya dan juga Umar [bin Al Khaththab] ber-tawassul dengan doa Al 

Abbas [bin Abdil Muththalib] ketika beliau masih hidup. Umar tidak ber-tawassul dengan Rasulullah 

setelah wafatnya beliau.

Tawassul yang seperti itu terkadang dapat menyeret kepada kesyirikan dan ini jika seseorang 

[sembari] meyakini bahwa Allah memerlukan perantara manusia seperti seorang pemimpin atau hakim. 

Sebab ia telah menyamakan Allah yang maha pencipta dengan makhlukNya.

Sumber: Muhammad bin Jamil Zainu. Khudz ‘Aqidatak min Al Kitab wa As Sunnah Ash Shahihah. TTp: 

TPn. TTh, halaman 21-22.




Rabu, 14 Desember 2016

SUBHANNALOH...!! Mengenal Putra dan Putri Junjungan Kita Rasulullah yuk...!




Pembicaraan tentang putra dan putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk pembicaraan yang jarang diangkat. Tidak heran, sebagian umat Islam tidak mengetahui berapa jumlah putra dan putri beliau atau siapa saja nama anak-anaknya.

Flashdisk Yufid.TV
Enam dari tujuh anak Rasulullah terlahir dari ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha. Rasulullah memuji Khadijah dengan sabdanya,

قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ

“Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.” (HR Ahmad no.24864)

Saat beliau mengucapkan kalimat ini, beliau belum menikah dengan Maria al-Qibtiyah.

Anak-anak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Rasulullah memiliki tiga orang putra; yang pertama Qasim, namanya menjadi kunyah Rasulullah (Abul Qashim). Qashim dilahirkan sebelum kenabian dan wafat saat berusia 2 tahun. Yang kedua Abdullah, disebut juga ath-Thayyib atau ath-Tahir karena lahir setelah kenabian. Putra yang ketiga adalah Ibrahim, dilahirkan di Madinah tahun 8 H dan wafat saat berusia 17 atau 18 bulan.

Adapun putrinya berjumlah 4 orang; Zainab yang menikah dengan Abu al-Ash bin al-Rabi’, keponakan Rasulullah dari jalur Khadijah, kemudian Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib, lalu Ruqayyah dan Ummu Qultsum menikah dengan Utsman bin Affan.

Rinciannya adalah sebagai berikut:

Putri-putri Rasulullah

Para ulama sepakat bahwa jumlah putri Rasulullah ada 4 orang, semuanya terlahir dari rahim ummul mukminin Khadijah radhiallahu ‘anha.

Pertama, putri pertama Rasulullah adalah Zainab binti Rasulullah.

Zainab radhiallahu ‘anha menikah dengan anak bibinya, Halah binti Khuwailid, yang bernama Abu al-Ash bin al-Rabi’. Pernikahan ini berlangsung sebelum sang ayah diangkat menjadi rasul. Zainab dan ketiga saudarinya masuk Islam sebagaimana ibunya Khadijah menerima Islam, akan tetapi sang suami, Abu al-Ash, tetap dalam agama jahiliyah. Hal ini menyebabkan Zainab tidak ikut hijrah ke Madinah bersama ayah dan saudari-saudarinya, karena ikatannya dengan sang suami.

Beberapa lama kemudian, barulah Zainab hijrah dari Mekah ke Madinah menyelamatkan agamanya dan berjumpa dengan sang ayah tercinta, lalu menyusullah suaminya, Abu al-Ash. Abu al-Ash pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk agama mertua dan istrinya. Keluarga kecil yang bahagia ini pun bersatu kembali dalam Islam dan iman. Tidak lama kebahagiaan tersebut berlangsung, pada tahun 8 H, Zainab wafat meninggalkan Abu al-Ash dan putri mereka Umamah.

Setelah itu, terkadang Umamah diasuh oleh kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam hadis disebutkan beliau menggendong cucunya, Umamah, ketika shalat, apabila beliau sujud, beliau meletakkan Umamah dari gendongannya.

Kedua, Ruqayyah binti Rasulullah.

Ruqayyah radhiallahu ‘anha dinikahkan oleh Rasulullah dengan sahabat yang mulia Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Keduanya turut serta berhijrah ke Habasyah ketika musyrikin Mekah sudah sangat keterlaluan dalam menyiksa dan menyakiti orang-orang yang beriman. Di Habasyah, pasangan yang mulia ini dianugerahi seorang putra yang dinamai Abdullah.

Ruqayyah dan Utsman juga turut serta dalam hijrah yang kedua dari Mekah menuju Madinah. Ketika tinggal di Madinah mereka dihadapkan dengan ujian wafatnya putra tunggal mereka yang sudah berusia 6 tahun.

Tidak lama kemudian, Ruqoyyah juga menderita sakit demam yang tinggi. Utsman bin Affan setia merawat istrinya dan senantiasa mengawasi keadaannya. Saat itu bersamaan dengan terjadinya Perang Badar, atas permintaan Rasulullah untuk mejaga putrinya, Utsman pun tidak bisa turut serta dalam perang ini. Wafatlah ruqayyah  bersamaan dengan kedatangan Zaid bin Haritsah yang mengabarkan kemenangan umat Islam di Badar.

Ketiga, Ummu Kultsum binti Rasulullah.

Setelah Ruqayyah wafat, Rasulullah menikahkan Utsman dengan putrinya yang lain, Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha. Oleh karena itulah Utsman dijuluki dzu nurain (pemilik dua cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah, sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki sahabat lainnya.

Utsman dan Ummu Kultsum bersama-sama membangun rumah tangga hingga wafatnya Ummu Kultsum pada bulan Sya’ban tahun 9 H. Keduanya tidak dianugerahi putra ataupun putri. Ummu Kultsum dimakamkan bersebelahan dengan saudarinya Ruqayyah radhiallahu ‘anhuma.

Keempat, Fatimah binti Rasulullah.

Fatimah radhiallahu ‘anha adalah putri bungsu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia dilahirkan lima tahun sebelum kenabian. Pada tahun kedua hijriyah, Rasulullah menikahkannya dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Pasangan ini dikaruniai putra pertama pada tahun ketiga hijriyah, dan anak tersebut dinamai Hasan. Kemudian anak kedua lahir pada bulan Rajab satu tahun berikutnya, dan dinamai Husein. Anak ketiga mereka, Zainab, dilahirkan pada tahun keempat hijriyah dan dua tahun berselang lahirlah putri mereka Ummu Kultsum.

Fatimah adalah anak yang paling mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari gaya bicara dan gaya berjalannya. Apabila Fatimah datang ke rumah sang ayah, ayahnya selalu menyambutnya dengan menciumnya dan duduk bersamanya. Kecintaan Rasulullah terhadap Fatimah tergambar dalam sabdanya,

فاطمة بضعة منى -جزء مِني- فمن أغضبها أغضبني” رواه البخاري

“Fatimah adalah bagian dariku. Barangsiapa membuatnya marah, maka dia juga telah membuatku marah.” (HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda,

أفضل نساء أهل الجنة خديجة بنت خويلد، وفاطمة بنت محمد، ومريم بنت عمران، وآسية بنت مُزاحمٍ امرأة فرعون” رواه الإمام أحمد

“Sebaik-baik wanita penduduk surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, Asiah bin Muzahim, istri Firaun.” (HR. Ahmad).

Satu-satunya anak Rasulullah yang hidup saat beliau wafat adalah Fatimah, kemudian ia pula keluarga Rasulullah yang pertama yang menyusul beliau. Fatimah radhiallahu ‘anha wafat enam bulan setelah sang ayah tercinta wafat meninggalkan dunia. Ia wafat pada 2 Ramadhan tahun 11 H, dan dimakamkan di Baqi’.

Putra-putra Rasulullah

Pertama, al-Qashim bin Rasulullah. Rasulullah berkunyah dengan namanya, beliau disebut Abu al-Qashim (bapaknya Qashim). Qashim lahir sebelum masa kenabian dan wafat saat usia dua tahun.

Kedua, Abdullah bin Rasulullah. Abdullah dinamai juga dengan ath-Thayyib atau ath-Thahir. Ia dilahirkan pada masa kenabian.

Ketiga, Ibrahim bin Rasulullah.

Ibrahim dilahirkan pada tahun 8 H di Kota Madinah. Dia adalah anak terakhir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dilahirkan dari rahim Maria al-Qibthiyah radhiallahu ‘anha. Maria adalah seorang budak yang diberikan Muqauqis, penguasa Mesir, kepada Rasulullah. Lalu Maria mengucapkan syahadat dan dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Usia Ibrahim tidak panjang, ia wafat pada tahun 10 H saat berusia 17 atau 18 bulan. Rasulullah sangat bersedih dengan kepergian putra kecilnya yang menjadi penyejuk hatinya ini. Ketika Ibrahim wafat, Rasulullah bersabda,

“إن العين تدمع، والقلب يحزن، ولا نقول إلا ما يُرْضِى ربنا، وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون” رواه البخاري

“Sesungguhnya mata ini menitikkan air mata dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rab kami. Sesungguhnya kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari).

Kalau kita perhatikan perjalanan hidup Rasulullah bersama anak-anaknya, niscaya kita dapati pelajaran dan hikmah yang banyak. Allah Ta’ala mengaruniakan beliau putra dan putri yang merupakan tanda kesempurnaan beliau sebagai manusia. Namun Allah juga mencoba beliau dengan mengambil satu per satu anaknya sebagaiman dahulu mengambil satu per satu orang tuanya tatkala beliau membutuhkan mereka; ayah, ibu, kakek, dan pamannya. Hanya anaknya Fatimah yang wafat setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah juga tidak memperpanjang usia putra-putra beliau, salah satu hikmahnya adalah agar orang-orang tidak mengkultuskan putra-putranya atau mengangkatnya menjadi Nabi setelah beliau. Bisa kita lihat, cucu beliau Hasan dan Husein saja sudah membuat orang-orang yang lemah terfitnah. Mereka mengagungkan kedua cucu beliau melebih yang sepantasnya, bagaimana kiranya kalau putra-putra beliau dipanjangkan usianya dan memiliki keturunan? Tentu akan menimbulkan fitnah yang lebih besar.

Hikmah dari wafatnya putra dan putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sebagai teladan bagi orang-orang yang kehilangan salah satu putra atau putri mereka. saat kehilangan anaknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabar dan tidak mengucapkan perkataan yang tidak diridhai Allah. Ketika seseorang kehilangan salah satu anaknya, maka Rasulullah telah kehilangan hampir semua anaknya.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya..

Sumber: Islamweb.net

Oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com